Tidak sedikit kursi direksi atau komisaris di perusahaan diisi oleh orang-orang yang dulunya bukan dari dunia bisnis, tapi dari militer. Mereka yang sebelumnya berdinas di TNI atau Polri, kini ikut ambil bagian dalam pengambilan keputusan perusahaan.
Fenomena ini disebut military connection. Di Indonesia, hal ini bukan sesuatu yang aneh. Sudah sejak lama, militer punya ruang dalam urusan ekonomi, bukan cuma urusan pertahanan.
Dari Fungsi Militer ke Bisnis
Sejak masa Orde Baru, militer di Indonesia memiliki peran yang luas, tidak hanya dalam bidang pertahanan, tetapi juga dalam kegiatan sosial dan ekonomi. Peran ganda ini dikenal sebagai Dwi Fungsi ABRI. Salah satu bentuk pelaksanaannya terlihat dari keterlibatan militer dalam berbagai aktivitas usaha—seperti koperasi, yayasan, maupun kemitraan dengan perusahaan swasta dan BUMN.
Setelah reformasi, fungsi sosial-politik militer mulai dibatasi secara institusional. Namun, keterlibatan individu berlatar militer dalam sektor sipil tetap berlanjut. Banyak di antaranya melanjutkan karier di dunia profesional, termasuk menjabat sebagai komisaris, direksi, atau penasihat di perusahaan.
Seberapa Umum Military Connection di Perusahaan Publik?
Berdasarkan data dari ESGI Dataset (2022), dari 774 perusahaan publik yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, hanya 97 perusahaan atau sekitar 12,5% yang memiliki minimal satu orang direksi atau komisaris berlatar belakang militer.
Angkanya memang tidak dominan. Tapi pertanyaannya bukan soal jumlah. Pertanyaannya adalah: seberapa besar pengaruhnya?
Pengaruh Kecil Secara Jumlah, Besar Secara Dampak
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa perusahaan dengan latar belakang militer di jajaran manajemennya cenderung memiliki pendekatan yang lebih agresif dalam strategi perpajakan. Salah satu studi oleh Wahab et al. (2024) menemukan adanya kecenderungan tersebut, di mana kehadiran figur dengan pengalaman militer dalam struktur kepemimpinan perusahaan berkorelasi dengan pengambilan keputusan fiskal yang lebih berani.
Hal ini menunjukkan bahwa latar belakang kepemimpinan dapat mempengaruhi cara pandang perusahaan terhadap risiko dan tata kelola secara umum.
Baca Juga: Good Governance: Mengapa Tata Kelola Perusahaan Penting Bagi Investor
Lalu Apa Implikasinya?
Meskipun tidak semua perusahaan dengan koneksi militer otomatis buruk dalam tata kelola, temuan ini memberikan sinyal penting bagi investor, regulator, dan publik:
- Koneksi personal atau historis dengan kekuasaan punya probabilitas daya tawar besar dalam sistem bisnis di Indonesia.
- Transparansi dan akuntabilitas tidak bisa hanya bergantung pada struktur formal, tetapi juga pada integritas aktor di dalamnya.
Jika kamu ingin menggali lebih dalam soal keterlibatan militer di perusahaan publik, dapatkan datanya di ESGI Dataset!