{"id":3395,"date":"2021-10-22T13:24:31","date_gmt":"2021-10-22T06:24:31","guid":{"rendered":"https:\/\/www.esgi.ai\/?p=3395"},"modified":"2022-03-01T16:20:52","modified_gmt":"2022-03-01T09:20:52","slug":"apa-itu-dewan-komisaris","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.esgi.ai\/id\/apa-itu-dewan-komisaris\/","title":{"rendered":"Apa Itu Dewan Komisaris? Pengertian, Tugas, dan Ide Penelitian"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita sering mendengar ada pejabat publik yang diangkat menjadi komisaris perusahaan, khususnya Badan Usaha Milik Negara. <strong>Bagaimana caranya seseorang dapat merangkap jabatan sebagai komisaris? Apa saja tanggung jawabnya? Apakah Dewan Komisaris merupakan posisi yang sangat penting dalam perusahaan?<\/strong><\/span><!--more--><\/p>\n<hr \/>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\">Pengertian Dewan Komisaris<\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dewan Komisaris adalah sekelompok individu yang dipilih oleh pemegang saham untuk mengawasi kebijakan perusahaan dan memberikan nasihat kepada direksi\/dewan direksi. Dalam struktur perusahaan publik Indonesia, Dewan Komisaris merupakan posisi kedua tertinggi setelah Rapat Umum Pemegang Saham. Pemimpin dari Dewan Komisaris disebut Presiden Komisaris atau Komisaris Utama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berdasarkan Peraturan OJK No. 33 Tahun 2014, setiap perusahaan publik diwajibkan memiliki setidaknya 2 anggota Dewan Komisaris yang dipilih oleh pemegang saham melalui rapat umum pemegang saham (RUPS). Untuk menjaga independensi Dewan Komisaris, minimal 30% dari anggota Dewan Komisaris harus merupakan Komisaris Independen. Namun, jika Dewan Komisaris terdiri dari 2 orang saja, maka 1 di antaranya wajib merupakan seorang Komisaris Independen.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seorang anggota Dewan Komisaris dapat merangkap jabatan sebagai anggota Dewan Direksi maksimal pada 2 perusahaan publik lain, dan anggota Dewan Komisaris maksimal pada 2 perusahaan publik lain. Jadi, tidak heran jika kita sering mendengar ada seorang Direksi atau Komisaris yang merangkap jabatan.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\">Tugas Dewan Komisaris<\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berdasarkan Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, tugas dewan komisaris meliputi:<\/span><\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Membuat risalah rapat Dewan Komisaris dan membuat salinannya<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Melaporkan kepemilikan saham pribadi dan\/atau keluarga pada perusahaan (baik perusahaan tempat individu menjadi komisaris maupun perusahaan lain)<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Memberikan laporan mengenai tugas pengawasan yang telah dilakukan selama tahun buku yang baru lampau kepada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS)<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Memberikan persetujuan atau bantuan kepada Direksi dalam melakukan perbuatan hukum tertentu<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Melakukan tindakan pengurusan perusahaan dalam keadaan tertentu untuk jangka waktu tertentu, berdasarkan anggaran dasar atau keputusan RUPS<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dewan Komisaris wajib mengadakan rapat setidaknya 1 kali dalam 2 bulan. Selain itu, Dewan Komisaris juga wajib mengadakan rapat bersama Dewan Direksi secara berkala setidaknya 1 kali dalam 4 bulan.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\">Persyaratan Menjadi Anggota Dewan Komisaris<\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berdasarkan Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, siapa saja yang sudah cakap melakukan perbuatan hukum dapat diangkat menjadi anggota Dewan Direksi maupun Dewan Komisaris, kecuali dalam 5 tahun sebelum pengangkatan pernah:<\/span><\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Dinyatakan pailit;<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Menjadi anggota Dewan Direksi atau Dewan Komisaris yang dinyatakan bersalah dalam menyebabkan sebuah perusahaan pailit; atau<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Dihukum karena melakukan tindak pidana yang merugikan keuangan negara dan\/atau yang berkaitan dengan sektor keuangan.<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam hukum Indonesia, seseorang yang cakap dalam melakukan perbuatan hukum adalah orang yang telah dewasa (21 tahun) atau sudah kawin, berakal sehat, tidak memliki gangguan jiwa, dan tidak hilang ingatan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apabila perusahaan mewajibkan anggota Dewan Direksi maupun Dewan Komisarisnya untuk memiliki kemampuan teknis tertentu, maka persyaratan ini menambahkan persyaratan yang sudah ditentukan dalam undang-undang. Seluruh pemenuhan persyaratan dibuktikan dengan surat yang kemudian akan disimpan oleh perusahaan.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\">Perbedaan Dewan Direksi dan Dewan Komisaris<\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perbedaan utama Dewan Direksi dan Dewan Komisaris terletak pada fungsi, letak dalam struktur perusahaan, dan tingkat independensi.<\/span><\/p>\n<table>\n<tbody>\n<tr>\n<td><\/td>\n<td><b>Dewan Direksi<\/b><\/td>\n<td><b>Dewan Komisaris<\/b><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td><b>Fungsi<\/b><\/td>\n<td><span style=\"font-weight: 400;\">Menjalankan fungsi manajemen\/pengurusan perusahaan<\/span><\/td>\n<td><span style=\"font-weight: 400;\">Menjalankan fungsi pengawasan perusahaan (mengawasi kinerja Dewan Direksi)<\/span><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td><b>Letak dalam struktur perusahaan<\/b><\/td>\n<td><span style=\"font-weight: 400;\">Ketiga tertinggi setelah Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) dan Dewan Komisaris<\/span><\/td>\n<td><span style=\"font-weight: 400;\">Kedua tertinggi setelah Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS)<\/span><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td><b>Tingkat independensi<\/b><\/td>\n<td><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak ada direktur eksternal\/independen<\/span><\/td>\n<td><span style=\"font-weight: 400;\">Wajib ada Komisaris Independen<\/span><\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\">Komite-komite dalam Dewan Komisaris<\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam bertugas, Dewan Komisaris memiliki 3 komite yang masing-masing berfokus pada satu aspek pengawasan perusahaan. Tiga komite tersebut adalah:<\/span><\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><b>Komite Audit<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Seluruh perusahaan publik Indonesia wajib memiliki Komite Audit, sebagaimana tertera dalam Peraturan OJK No. 55 Tahun 2015. Tugas Komite Audit adalah mengecek informasi keuangan perusahaan yang akan dikeluarkan kepada publik, mengecek ketaatan perusahaan terhadap peraturan perundang-undangan, mengecek pelaksanaan audit internal, memberikan pendapat independen, dan memberikan saran kepada Dewan Komisaris terkait audit dan akuntansi perusahaan.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><b>Komite Nominasi dan Remunerasi<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Seluruh perusahaan publik Indonesia wajib memiliki Komite Nominasi dan Remunerasi, sebagaimana tertera dalam Peraturan OJK No. 34 Tahun 2014. Tugas Komite Nominasi dan Remunerasi adalah menjalankan fungsi nominasi (pengusulan seseorang untuk diangkat menjadi anggota Dewan Direksi atau Dewan Komisaris) dan remunerasi (penetapan imbalan yang diberikan kepada anggota Dewan Direksi atau Dewan Komisaris) secara independen.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><b>Komite Pemantau Risiko<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Saat ini, baru perusahaan yang bergerak dalam bidang efek\/keuangan\/pembiayaan yang diwajibkan untuk memiliki Komite Pemantau Risiko, sesuai dengan Peraturan OJK No. 29 Tahun 2020. Komite ini mengawasi jalannya Komite Manajemen Risiko yang beranggotakan Direksi dan pejabat eksekutif terkait. Ketika tidak ada Komite Pemantau Risiko maupun Komite Manajemen Risiko dalam sebuah perusahaan, fungsi manajemen risiko dijalankan oleh Komite Audit.<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\">Komisaris Independen<\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam Dewan Komisaris, terdapat pihak independen yang dinamakan Komisaris Independen. Persyaratan menjadi Komisaris Independen dalam sebuah perusahaan adalah:<\/span><\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Bukan merupakan orang yang bekerja atau mempunyai wewenang dan tanggung jawab untuk merencanakan, memimpin, mengendalikan, atau mengawasi kegiatan perusahaan publik tersebut dalam waktu 6 bulan terakhir. <\/span><b>Syarat ini tidak berlaku untuk pengangkatan kembali Komisaris Independen pada periode berikutnya.<\/b><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak memiliki saham, baik secara langsung maupun tidak langsung, dalam perusahaan tersebut.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak memiliki hubungan afiliasi dengan perusahaan tersebut, anggota Dewan Komisaris, anggota Dewan Direksi, maupun pemegang saham utama perusahaan tersebut.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak memiliki hubungan usaha, baik secara langsung maupun tidak langsung, dengan perusahaan tersebut.<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Komisaris Independen merupakan bagian penting dari Dewan Komisaris dan perusahaan secara keseluruhan karena dapat memberikan pandangan objektif dalam pengawasan perusahaan. Hal ini juga merupakan elemen penting dari<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> Good Corporate Governance <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(GCG) atau tata kelola perusahaan yang baik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Peraturan OJK No. 33 Tahun 2014 mengatur bahwa perusahaan publik minimal memiliki 2 anggota Dewan Komisaris, dengan 1 di antaranya adalah Komisaris Independen. Apabila Dewan Komisaris terdiri dari 3 orang atau lebih, jumlah Komisaris Independen minimal 30% dari jumlah seluruh anggota Dewan Komisaris.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\">Ide Penelitian Mengenai Dewan Komisaris<\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penelitian ilmiah mengenai Dewan Komisaris banyak dilakukan di Indonesia karena datanya yang tersedia secara publik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Variabel independen yang dapat diteliti dari Dewan Komisaris adalah:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Ukuran Dewan Komisaris (berapa orang)<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Keberagaman\/komposisi Dewan Komisaris (contoh: gender, kewarganegaraan, senioritas, etnis\/ras)<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Koneksi politik dan militer Dewan Komisaris<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Skema kompensasi (gaji) Dewan Komisaris<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Jumlah\/proporsi Komisaris Independen<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Keberadaan komite audit<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Keberadaan komite nominasi dan remunerasi<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Keberadaan komite manajemen resiko\/komite pemantau resiko<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Variabel-variabel independen ini sering dihubungkan dengan pengaruhnya terhadap performa perusahaan, yaitu kemampuan perusahaan menggunakan sumber dayanya untuk mencapai target. Dalam riset akuntansi dan bisnis, performa perusahaan sering diukur melalui performa finansial atau kinerja keuangan perusahaan, seperti <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">return on investment<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (ROI), <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">return on assets<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (ROA), <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">return on equity<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (ROE), dan Tobin\u2019s Q.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain performa perusahaan, ada pula penelitian yang meneliti pengaruh Dewan Komisaris terhadap elemen lain dalam perusahaan, seperti:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\">Manajemen laba<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\">Konservatisme akuntansi perusahaan<\/span><\/li>\n<li><i><span style=\"font-weight: 400;\">Tax avoidance<\/span><\/i><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\">Pengungkapan emisi karbon perusahaan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">(carbon emission disclosure)<\/span><\/i><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\">Kinerja <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">corporate social responsibility <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(CSR) dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">environmental, social, and governance <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(ESG)<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masih bingung ingin meneliti tentang apa? Berikut adalah beberapa ide penelitian mengenai Dewan Komisaris:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Pengaruh ukuran dewan komisaris terhadap kinerja keuangan perusahaan<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Pengaruh komposisi gender dewan komisaris terhadap kinerja keuangan<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Pengaruh koneksi politik dewan komisaris terhadap kinerja keuangan perusahaan<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Pengaruh koneksi militer dewan komisaris terhadap kinerja keuangan perusahaan<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Pengaruh kompensasi dewan komisaris terhadap kinerja keuangan perusahaan<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Pengaruh latar belakang dewan komisaris terhadap pengungkapan laporan keberlanjutan perusahaan (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">sustainability reporting<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">)<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Pengaruh latar belakang dewan komisaris terhadap pengungkapan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">corporate social responsibility<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (CSR) perusahaan<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Pengaruh karakteristik dewan komisaris terhadap konservatisme akuntansi perusahaan<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Pengaruh keberagaman\/komposisi dewan komisaris terhadap manajemen laba perusahaan<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Pengaruh keberagaman\/komposisi dewan komisaris terhadap <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">tax avoidance\u00a0<\/span><\/i><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Pengaruh latar belakang dewan komisaris terhadap kinerja <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">environmental, social, governance <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(ESG) perusahaan<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><b>Variabel-variabel ini tersedia di <\/b><a href=\"https:\/\/www.esgi.ai\/id\/\"><b>ESGI Dataset<\/b><\/a><b>, lho! <\/b><span style=\"font-weight: 400;\">Kunjungi <\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> untuk mengetahui lebih lengkap mengenai variabel apa saja yang tersedia untuk diunduh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masih bingung bagaimana cara membeli datanya? Temukan langkah-langkahnya dalam <\/span><a href=\"https:\/\/www.esgi.ai\/id\/cara-membeli-data-di-esgi-dataset\/\"><span style=\"font-weight: 400;\">artikel ini<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p><b>Mari #RisetTanpaRibet dengan ESGI Dataset!<\/b><\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kita sering mendengar ada pejabat publik yang diangkat menjadi komisaris perusahaan, khususnya Badan Usaha Milik Negara. Bagaimana caranya seseorang dapat merangkap jabatan sebagai komisaris? Apa saja tanggung jawabnya? Apakah Dewan Komisaris merupakan posisi yang sangat penting dalam perusahaan?<\/p>","protected":false},"author":5,"featured_media":3398,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"default","ast-global-header-display":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","theme-transparent-header-meta":"","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":""},"categories":[38],"tags":[88,89],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v15.3 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Apa Itu Dewan Komisaris? Pengertian, Tugas, dan Ide Penelitian -<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Dewan komisaris memiliki peran vital sebagai pengawas jalannya perusahaan. Baca lebih lengkap tentang Dewan Komisaris di artikel ini.\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.esgi.ai\/id\/apa-itu-dewan-komisaris\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Apa Itu Dewan Komisaris? Pengertian, Tugas, dan Ide Penelitian -\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Dewan komisaris memiliki peran vital sebagai pengawas jalannya perusahaan. Baca lebih lengkap tentang Dewan Komisaris di artikel ini.\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.esgi.ai\/id\/apa-itu-dewan-komisaris\/\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2021-10-22T06:24:31+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2022-03-01T09:20:52+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.esgi.ai\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/business-colleagues-in-conference-meeting-room-dur-2021-08-26-17-31-17-utc-scaled.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"2560\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1639\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\">\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Saras Sutedja\">\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\">\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"5 menit\">\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.esgi.ai\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.esgi.ai\/\",\"name\":\"ESGI\",\"description\":\"INTELLIGENCE\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":\"https:\/\/www.esgi.ai\/?s={search_term_string}\",\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.esgi.ai\/apa-itu-dewan-komisaris\/#primaryimage\",\"inLanguage\":\"id\",\"url\":\"https:\/\/www.esgi.ai\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/business-colleagues-in-conference-meeting-room-dur-2021-08-26-17-31-17-utc-scaled.jpg\",\"width\":2560,\"height\":1639,\"caption\":\"Business colleagues in modern conference meeting room during presentation\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.esgi.ai\/apa-itu-dewan-komisaris\/#webpage\",\"url\":\"https:\/\/www.esgi.ai\/apa-itu-dewan-komisaris\/\",\"name\":\"Apa Itu Dewan Komisaris? Pengertian, Tugas, dan Ide Penelitian -\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.esgi.ai\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.esgi.ai\/apa-itu-dewan-komisaris\/#primaryimage\"},\"datePublished\":\"2021-10-22T06:24:31+00:00\",\"dateModified\":\"2022-03-01T09:20:52+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/www.esgi.ai\/#\/schema\/person\/d948168cf1dfdec32420b158e45c1d5a\"},\"description\":\"Dewan komisaris memiliki peran vital sebagai pengawas jalannya perusahaan. Baca lebih lengkap tentang Dewan Komisaris di artikel ini.\",\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.esgi.ai\/apa-itu-dewan-komisaris\/\"]}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.esgi.ai\/#\/schema\/person\/d948168cf1dfdec32420b158e45c1d5a\",\"name\":\"Saras Sutedja\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.esgi.ai\/#personlogo\",\"inLanguage\":\"id\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e95c9ab6328fd6f4bb25f3d85260f093?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Saras Sutedja\"}}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.esgi.ai\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3395"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.esgi.ai\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.esgi.ai\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.esgi.ai\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/5"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.esgi.ai\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3395"}],"version-history":[{"count":12,"href":"https:\/\/www.esgi.ai\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3395\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3702,"href":"https:\/\/www.esgi.ai\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3395\/revisions\/3702"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.esgi.ai\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3398"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.esgi.ai\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3395"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.esgi.ai\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3395"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.esgi.ai\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3395"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}