Surabaya – Dekarbonisasi industri EV Indonesia menjadi faktor penting untuk menjaga daya saing nasional. Hal ini semakin relevan karena standar lingkungan global terus meningkat. Industri baterai dan electric vehicle (EV) di Indonesia memiliki potensi besar sebagai penggerak ekonomi nasional. Namun, keberhasilan tersebut perlu diimbangi dengan penerapan prinsip keberlanjutan.
Isu tersebut menjadi fokus pembahasan dalam Seminar Publik bertajuk “Membangun Dekarbonisasi pada Rantai Pasok Industri Baterai dan EV demi Menjaga Daya Saing dan Komitmen Lingkungan Indonesia” yang diselenggarakan oleh Centre for Strategic and International Studies (CSIS) bersama Center for Environmental, Social, and Governance Studies (CESGS) Universitas Airlangga sebagai bagian dari rangkaian Road to Asia-Pacific Sustainable Business & Innovation Forum (ASBIF) 2026.
Kegiatan tersebut menghadirkan akademisi, peneliti, praktisi industri, dan pemangku kebijakan. Acara ini berlangsung di gedung ASEEC Tower, Universitas Airlangga. Para pembicara menyoroti bahwa dekarbonisasi tidak hanya bertujuan mengurangi emisi gas rumah kaca. Dekarbonisasi juga menjadi faktor penting yang menentukan akses pasar dan daya saing industri.


Indonesia Memiliki Peluang Besar, tetapi Tantangan Masih Ada
Peneliti CSIS, Adinova Fauri, menyebut Indonesia memiliki peluang besar dalam industri baterai berkat cadangan nikel yang melimpah. Meski demikian, keunggulan tersebut belum cukup untuk menjadikan Indonesia sebagai pemain utama di pasar EV global. Persaingan kini juga ditentukan oleh kemampuan industri untuk memenuhi standar lingkungan yang semakin ketat. Menurutnya, ketergantungan pada energi berbasis batu bara masih menjadi tantangan yang dapat mengurangi daya saing industri nasional.
Penguatan Rantai Pasok dan Penerapan ESG Menjadi Kunci
Wakil Ketua Komite Tetap Energi Baru Terbarukan KADIN Jawa Timur, Ardi Krisnamurti, menilai agar mampu menghasilkan nilai tambah yang optimal bagi perekonomian nasional, diperlukan adanya pengembangan industri baterai secara terintegrasi dari sektor hulu hingga hilir. Pentingnya penguatan industri pengolahan, manufaktur, hingga daur ulang baterai juga diperlukan agar Indonesia tidak hanya berperan sebagai pemasok bahan baku, tetapi juga mampu berkembang sebagai pusat industri yang menghasilkan produk bernilai tinggi, tuturnya.
Indonesia juga perlu terus beradaptasi melalui inovasi dan penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) dalam melakukan pengembangan teknologi baterai yang berlangsung secara cepat. Seperti halnya yang dikemukakan oleh Professor of Finance dari BRAC University, Dr. Md. Mahmudul Alam, investor global saat ini tidak hanya mempertimbangkan potensi keuntungan ekonomi. Aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola perusahaan kini menjadi indikator penting dalam pengambilan keputusan investasi.
Dekarbonisasi Menentukan Masa Depan Industri EV Indonesia


Managing Director of Research and Innovation CESGS Universitas Airlangga, Fajar Kristanto, menjelaskan bahwa kebutuhan baterai tidak hanya berasal dari sektor kendaraan listrik, tetapi juga untuk mendukung pengembangan energi terbarukan, khususnya pembangkit listrik tenaga surya.
Meskipun peluang pasar semakin besar, industri baterai Indonesia masih menghadapi tantangan lingkungan dan sosial. Oleh karena itu, penerapan ESG dan strategi dekarbonisasi menjadi langkah penting untuk membangun industri yang kompetitif.
Pada akhirnya, keberhasilan dekarbonisasi industri EV Indonesia tidak hanya bergantung pada ketersediaan sumber daya alam. Kolaborasi antara pemerintah, industri, akademisi, dan lembaga riset juga menjadi faktor utama dalam menciptakan rantai pasok kendaraan listrik yang berkelanjutan.
Ke depan, dekarbonisasi industri EV Indonesia tidak hanya menjadi upaya pengurangan emisi, tetapi juga strategi untuk meningkatkan akses pasar, menarik investasi, dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok kendaraan listrik global.
