ASBIF 2026

Perkuat Kolaborasi dan Inovasi Berkelanjutan di Kawasan Asia-Pasifik Lewat ASBIF 2026

Surabaya – Isu keberlanjutan kini bukan sekadar agenda jangka panjang lagi, melainkan kebutuhan yang harus segera diwujudkan melalui kolaborasi nyata. Semangat inilah yang mewarnai pelaksanaan Asia-Pacific Sustainable Business and Innovation Forum (ASBIF) 2026, sebuah forum internasional yang diselenggarakan oleh CESGS dan Departemen Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Airlangga, bekerja sama dengan Research Centre for ESG dari The Hang Seng University of Hong Kong. Penyelenggaraan forum ini bertujuan untuk mempertemukan kalangan akademisi, pelaku industri, investor, hingga pembuat kebijakan guna mendiskusikan masa depan bisnis berkelanjutan di kawasan Asia-Pasifik. 

Kolaborasi Jadi Kunci Menghadapi Tantangan Keberlanjutan

Rangkaian kegiatan dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Sumber Daya Universitas Airlangga, Prof. Dr. Ardianto, S.E., Ak., M.Si., CMA, CA. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa tantangan keberlanjutan saat ini tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan sinergi antara akademisi, wirausahawan, investor, pemerintah, dan masyarakat untuk menghasilkan solusi yang berdampak. Pandangan tersebut diperkuat oleh Prof. Iman Harymawan selaku Conference Chair ASBIF 2026 dan CEO CESGS. Menurutnya, inovasi dan kolaborasi lintas sektor merupakan kunci dalam menghadapi berbagai tantangan keberlanjutan yang semakin kompleks di kawasan Asia-Pasifik. 

ASBIF 2026

AI dan ESG Jadi Sorotan

Acara dilanjutkan dengan sesi keynote yang menghadirkan Prof. Louis Cheng, Director of Research Centre for ESG, The Hang Seng University of Hong Kong. Dalam paparannya, ia menyoroti bagaimana kecerdasan buatan mulai memainkan peran penting dalam pengambilan keputusan bisnis yang lebih akurat dan berorientasi pada keberlanjutan.

Selain menghadirkan berbagai diskusi strategis, CESGS juga memberikan apresiasi kepada perusahaan-perusahaan yang dinilai menunjukkan kepemimpinan dan komitmen kuat dalam penerapan ESG melalui ESG Leadership Award 2026. Penghargaan diberikan kepada perusahaan-perusahaan dari berbagai sektor industri, mulai dari energi, teknologi, perbankan, kesehatan, hingga properti. Apresiasi ini menjadi bentuk pengakuan atas upaya mereka dalam mengintegrasikan prinsip keberlanjutan ke dalam strategi bisnis dan tata kelola perusahaan.

Net Zero dan Tata Kelola Iklim

Memasuki hari kedua, fokus diskusi bergeser pada strategi net zero, tata kelola iklim, serta kontribusi akademisi dalam pengembangan riset keberlanjutan.

Sesi keynote menghadirkan Prof. Yenn Ru Chen dari National Chengchi University, Taiwan, dan Prof. C.S. Agnes Cheng dari The University of Oklahoma, Amerika Serikat. Prof. Yenn menjelaskan pentingnya penerapan kerangka Task Force on Climate-related Financial Disclosures sebagai panduan perusahaan dalam mengidentifikasi dan mengelola risiko iklim. Sementara Prof. Agnes menyoroti perlunya harmonisasi regulasi keberlanjutan untuk meningkatkan transparansi sekaligus mengurangi praktik greenwashing.

Diskusi Panel Akademisi Internasional

Diskusi panel hari kedua menghadirkan sejumlah akademisi internasional yang membahas hubungan antara strategi bisnis dan perubahan iklim yang dibagi menjadi dua sesi. Dibuka dengan sesi panel pertama yang bertajuk “Theoretical Perspectives on Climate Mitigation and Adaptation in Business Strategy” menghadirkan Prof. Desi Adhariani dari Universitas Indonesia, Prof. Mosab Tabash dari Al Ain University, Uni Emirat Arab, serta Prof. Mahfud Sholihin dari Universitas Gadjah Mada. Panelis menekankan bahwa integrasi prinsip keberlanjutan dalam strategi bisnis merupakan langkah penting untuk memperkuat adaptasi terhadap perubahan iklim serta mendorong penciptaan nilai jangka panjang.

Sementara itu, sesi panel kedua bertajuk “From ESG to Market Impact through Governance Disclosure and Evolving Investor Dynamics” menghadirkan Prof. Doddy Setiawan dari Universitas Sebelas Maret dan Dr. Akmalia dari Universiti Malaysia Trengganu. Prof. Doddy menekankan bahwa tata kelola perusahaan yang efektif menjadi faktor penting dalam mendukung kinerja ESG. Senada dengan hal itu, Dr. Akmalia menjelaskan bahwa perkembangan rating ESG kini semakin diperhatikan oleh pasar dan investor dalam menilai keberlanjutan serta daya saing perusahaan.

ESGI Dataset Perkenalkan Data Riset Indonesia di Forum Internasional

Selain menghadirkan diskusi akademik, ASBIF 2026 juga menjadi ajang bagi CESGS untuk memperkenalkan ESGI Dataset kepada peserta internasional. Dalam sesi khusus bertajuk “Do Indonesia’s Top Wealth-Creating Companies Also Lead in Sustainability?”, tim ESGI Dataset memaparkan hasil analisis mengenai hubungan antara penciptaan nilai perusahaan dan kinerja keberlanjutan di Indonesia.

Presentasi tersebut menunjukkan bagaimana data ESG dapat digunakan untuk mengevaluasi praktik keberlanjutan perusahaan sekaligus mendukung pengambilan keputusan berbasis bukti (evidence-based decision making). Melalui sesi ini, peserta juga diperkenalkan dengan ESGI Dataset sebagai sumber data penelitian yang menyediakan berbagai indikator ESG, tata kelola perusahaan, hingga variabel keberlanjutan yang dapat dimanfaatkan oleh akademisi, mahasiswa, peneliti, maupun praktisi.

Partisipasi ESGI Dataset dalam ASBIF 2026 menjadi salah satu langkah CESGS untuk memperkenalkan kualitas data penelitian Indonesia kepada komunitas akademik dan industri di tingkat internasional, sekaligus memperluas kolaborasi riset di bidang ESG dan keberlanjutan.

Ditutup dengan Best Paper Award

Rangkaian ASBIF 2026 ditutup dengan Best Paper Award Ceremony untuk memberikan penghargaan kepada para akademisi dan peneliti yang karya ilmiahnya dinilai mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap pengembangan ilmu pengetahuan sekaligus menawarkan solusi yang relevan bagi dunia bisnis dan pembuat kebijakan.

ASBIF 2026

Selama dua hari penyelenggaraan, ASBIF 2026 berhasil menjadi wadah kolaborasi internasional yang memfasilitasi pertukaran perspektif menuju realisasi masa depan yang berkelanjutan. Berdasarkan komitmen tersebut, penyelenggaraan ASBIF berikutnya dijadwalkan akan berlangsung di Curtin University, Australia pada tahun 2027. Dengan mengusung semangat kolaborasi dan inovasi, forum ini diharapkan terus menjadi tombak lahirnya solusi nyata bagi berbagai tantangan keberlanjutan di kawasan Asia-Pasifik.

Tertarik mengetahui apakah perusahaan-perusahaan pencipta nilai terbesar di Indonesia juga menjadi pemimpin dalam keberlanjutan? Dapatkan data lengkapnya melalui ESGI Dataset.