Investasi berbasis ESG (Environmental, Social, Governance) kini jadi sorotan karena dinilai mencerminkan tanggung jawab jangka panjang perusahaan. Banyak investor meyakini bahwa ESG Score yang tinggi bisa berdampak positif pada harga saham. Namun kenyataannya, prediksi ini tidak sesederhana itu. ESG memang potensial menjadi indikator keberlanjutan bisnis, tapi terdapat kompleksitas dan tantangan tersendiri sebelum bisa diandalkan untuk memproyeksi kinerja saham. Berbagai studi empiris menunjukkan korelasi positif antara perbaikan ESG dan return saham, namun hubungannya bersifat berlapis (nuanced) dan dipengaruhi banyak faktor.
Apakah ESG Score benar-benar bisa digunakan untuk memprediksi kinerja saham?
Jawabannya bisa, tapi tidak sesederhana itu.
Tantangan Implementasi ESG di Dunia Bisnis
Meskipun mulai banyak yang percaya bahwa ESG memberikan keuntungan jangka panjang, kenyataannya banyak perusahaan masih menghadapi tantangan besar dalam implementasinya terutama di Indonesia. Kenapa bisa begini?
- ESG butuh biaya dan sumber daya tambahan, dari audit hingga perubahan sistem operasional.
- Pengukuran ESG belum seragam; masih ada perbedaan antar lembaga penilai.
- Banyak perusahaan lebih fokus pada target jangka pendek (seperti laba kuartalan) ketimbang transformasi jangka panjang.
- Tidak semua pemangku kepentingan (stakeholders) melihat ESG sebagai prioritas.
ESG dan Kinerja Perusahaan
Padahal penelitian menunjukkan bahwa perusahaan berbasis ESG cenderung lebih menguntungkan. Laporan ASEAN–Japan Centre (2019) misalnya, melibatkan 143 perusahaan di 10 negara ASEAN, menemukan bahwa rata-rata margin laba bersih perusahaan ESG (11,41%) lebih tinggi daripada non-ESG (9,61%)
“Increase in a company’s ESG rating has an impact on changes in positive abnormal returns on investment.” – Shanaev, 2022
Artinya, perusahaan dengan ESG yang lebih baik berpotensi memberikan return lebih tinggi. Investor bisa mendapatkan keuntungan lebih dari yang mereka perkirakan karena pasar merespons positif praktik ESG.
Penelitian dari Asian Development Bank Institute bahkan menunjukkan bahwa 143 perusahaan berbasis ESG memiliki margin laba bersih 2% lebih tinggi dibanding perusahaan non-ESG.
Baca Juga: ESG, Apa Perbedaannya dengan Investasi Biasa?
ESG dan Efisiensi Perusahaan
Penerapan inisiatif ESG, terutama di aspek lingkungan, juga bisa meningkatkan efisiensi operasional. Penelitian Nishitani (2011) misalnya, menemukan bahwa perusahaan yang menerapkan standar lingkungan (seperti ISO 14001) sering kali mengalami kenaikan produktivitas dan penurunan biaya. Hal ini karena proses produksi menjadi lebih efektif dan biaya pembuangan limbah berkurang Penelitian oleh menunjukkan bahwa perusahaan yang menekan polusi bisa meningkatkan efisiensi.
Singkatnya, operasi perusahaan yang lebih bersih akan berkontribusi pada peningkatan efisiensi jangka panjang, meski perlu modal awal untuk infrastruktur hijau.
Penemuan ini mendukung pandangan bahwa strategi keberlanjutan tidak sekadar beban, melainkan investasi masa depan. Imbal baliknya akan terasa lewat penghematan biaya dan peningkatan daya saing, yang pada akhirnya dapat memperkuat kinerja keuangan (termasuk ROA dan ROE) perusahaan.
Penelitian oleh Zhou (2024) mengungkap bahwa aspek lingkungan dari ESG punya korelasi positif dengan Return on Assets (ROA) dan Return on Equity (ROE). Dengan kata lain, investor mulai menghargai strategi keberlanjutan. Perusahaan yang proaktif dalam ESG bisa mendapatkan tempat yang lebih baik di pasar.
🔍 Butuh data ESG perusahaan Indonesia untuk riset atau keputusan investasi?
Cek ESGI Dataset di
Ingin akses data ESG perusahaan Indonesia?
Kamu bisa cek ESGI Dataset
